KOTAKU
ASAL USUL KOTAKU
Jalur perdagangan di Pantai Utara JawaPeranan Wali Songo
penyebaran Islam di Pulau Jawa sangat besar, namun Wali Songo bukanlah orang
asli Nusantara, melainkan berasal dari Negeri Cina dan keturunannya, Bong Swi
Hoo atau Sunan Ampel yang sebelumnya adalah seorang yang berasal dari Campa
yang didatangkan untuk menjadi Kapten Cina di Bangil di muara sungai Porong
(Muljana 2009:185-186).Seperti halnya
daerah-daerah lain di Nusantara, pulau Madura yang secara geografis terletak di
dekat atau berhadapan dengan kota-kota pelabuhan di Jawa Timur yaitu pelabuhan
Tuban, Gresik dan Surabaya tidak terlepas dari usaha penyebaran Agama Islam
yang dilakukan oleh para Wali di Pulau Jawa. Sunan Giri atau Raden Paku, murid
dari Sunan Ampel, telah berhasil mengislamkan Madura, Lombok, Makasar dan
Ternate. Akan tetapi jauh sebelum itu sudah banyak pedagang-pedagang Islam dari
Gujarat yang singgah di pelabuhan pantai Madura, terutama di pelabuhan
Kalianget atau Sumenep. Dalam kaitannya dengan Madura.Dalam abad ke-16,
karena munculnya agama Islam di kepulauan dan juga karena kesulitan-kesulitan
intern, istana Majapahit yang pernah berkuasa itu kehilangan kekuasaan dan
pengawasan atas kerajaan di pesisir
utarea Jawa. Kerajaann-kerajaan kecil itu takluk dan berkembang menjadi
negara-negara pesisir yang bebas dan saling bersaing mendapatkan hegemoni di
lautan. Menurut cerita tradisi, para raja tetap setia kepada Kerajaan
Majapahit. Sesudah itu barulah mereka mengakui kekuasaan tertinggi yaitu
kerajaan Demak yang bertumpu pada perdagangan di seberang lautan, yang mungkin
menggunakan pulau Madura sebagai basisi penyerangan dalam perjuangna yang
bermotif ekonomi terhadap beberapa daerah di ujung timur Jawa yang tetap
beragama Hindu yag didukung oleh kerajaan Bali. Barulah sekitar abad ke 16,
Islam tumbuh melalui perdagangan di pulau tersebut. Dimana-mana di sepanjang
pesisir bermukimlah pedagang-pedagang Islam yang kebanyakan adalah orang
Melayu.Selama dalam
kejayaan kerajaan Majapahit, Madura tidak begitu penting keberadaannya bila
dibandingkan dengan kerajaan dibawah Kerajaan Majapahit lainnya, Majapahit yang
memiliki bandar dagang di Malaka, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara
dan kepulauan Maluku. Sehubungan dengan pengamanan jalur perdagangan,
penguasaan Pulau Madura adalah penting sekali bagi Kerajaan Majapahit. Terlebih
lagi hal itu berlaku bagi negara-negara pesisir Demak dan Surabaya yang
mengarahkan seluruh kegiatan mereka di bidang maritim dan komersial (De Jounge
1989:47).Islamisasi di
Sumenep bermula dari interaksi yang lama
antara penduduk asli dengan para pedagang
sebagai pendatang tentu membawa pengaruh terhadap kebudayaan dan kepercayaan
mereka, diceritakan disuatu daerah didekat desa Persanga di Sumenep datang
seorang penyiar Agama Islam. Ia memberi pelajaran Agama Islam di Pulau Sumenep,
diceritakan pula bahwa seorang santri telah dianggap dapat melakukan rukun agam
Islam maka ia lalu dimandikan dengan air dengan dicampuri macam-macam bunga
yang baunya sangat harum, dimandikan secara demikian disebut dengan "e
dusdus", karena itu tempat dimana dilakukan upacara dinamakan desa
"Padusan". Kampung Padusan ini termasuk desa Pamolokan kota Sumenep,
guru yang memberi pelajaran agama itu disebut "Sunan Padusan" menurut
riwayat hidupnya ia keturunan dari Arab ayahnya bernama Usman Hadji, anak dari
Raja Pandita saudara dari Sunan Ampel. Pada waktu itu rakyat sangat suka
mempelajari Agama Islam sehingga mempengaruhi kepada Rajanya ialah pangeran
jokotole yang lalu masuk Islam (Karnain 2009).
Bandar perdagangan di SumenepSeperti
halnya daerah-daerah lain di Nusantara, pulau Madura yang secara geografis
terletak di dekat atau berhadapan dengan kota-kota pelabuhan di Jawa Timur
yaitu pelabuhan Tuban, Gresik dan Surabaya tidak terlepas dari usaha penyebaran
Agama Islam yang dilakukan oleh para Wali di Pulau Jawa. Sunan Giri atau Raden
Paku, murid dari Sunan Ampel, telah berhasil mengislamkan Madura, Lombok,
Makasar dan Ternate. Akan tetapi jauh sebelum itu sudah banyak
pedagang-pedagang Islam dari Gujarat yang singgah di pelabuhan pantai Madura,
terutama di pelabuhan Kalianget atau Sumenep.Sebagaimana
dikatakan di atas bahwa salah satu penghambat pelaksanaan hubungan perdagangan
adalah tidak adanya tempat transaksi yang tetap. Oleh karena itu, salah satu
usaha yang dilakukan oleh para pedagang adalah membangun kota pelabuhan.
Biasanya, kota pelabuhan yang terletak pada jalur perdagangan yang strategis
dapat berkembang dengan pesat dan cepat. Dengan demikian, pembangunan kota
pelabuhan merupakan salah satu persyaratan yang penting bagi perkembangan
perdagangan di kepulauan Indonesia. Dalam perkembangannya, kota pelabuhan
memegang peranan penting penyebaran Islam di kepulauan Indonesia (Rusdiantoro
2011).Berdasarkan
kenyataan di atas, maka tidak berlebihan apabila kota pelabuhan sebagai kota
dagang dan jalur pelayaran memiliki peranan yang strategis dan penting bagi
proses masuknya Islam ke Indonesia. Beberapa fungsi kota pelabuhan adalah
sebagai berikut:1. Sebagai tempat berlabuh kapal-kapal dagang, baik untuk memuat
dan/atau membongkar barang-barang dagangannya.2. Sebagai tempat traksaksi perdagangan (jual beli barang-barang).3.
Sebagai tempat persinggahan dan/atau istirahat para pedagang.4.
Sebagai tempat tinggal para pengusaha kapal dan para pedagang.Dikatakan bahwa
Islam masuk ke Nusantara dibawa oleh pedagang asal Gujarat, ada dua pendapat
yang mengatakan kapan waktu datangnya Islam ke Nusantara, yang pertama adalah
pada abad VII M dan pada abad ke XII M. Islam mulai masuk ke Nusantara, karena
pada abad ini kerajaan Sriwijaya berusaha mengembangkan kekuasaannya, Selat
Malaka sudah mulai dilalui oleh pedagang-pedagang muslim dalam pelayarannya ke
negeri-negeri di Asia Tenggara dan Asia Timur. Teori ini berdasarkan pada
berita Cina dari zaman T’-ang, pada abad tersebut diduga masyarakat muslim
sudah ada di daerah Sumatera (Poesponegoro dan Notosusantanto 1992: 180-181).Selain dari Bangsa
Persia ataupun Bangsa Gujarat, perdagangan di Sumenep juga dibawa oleh orang
Cina, ini dibuktikan dengan adanya Klenteng Tri Dharma yang berada di dekat
Pelabuha Kalianget. Klenteng ini satu-satunya klenteng yang berada di Kota
Sumenep bahkan satu-satunya klenteng beraliran tridharma di Pulau Madura.
Klenteng Pao Xian Lian Kong Sumenep dibangun kira-kira 190 tahun lalu, menurut
pengurus Klenteng, Klenteng ini dibangun oleh para perantau asal Fujian di
Tiongkok Selatan dan ditemukan bukti tentang adanya tulisan di Kimsin atau
rupang Makco Thian Siang Sing Bo dalam kompleks tersebut. Kimsin dewi pelindung
para pelaut itu dibawa langsung oleh para perantau asal Fujian di Tiongkok
Selatan ke Sumenep (Naidra, 2012).

Proses Islamisasi di SumenepBukan
suatu hal yang berlebihan apabila seseorang mengatakan bahwa Islamisasi Madura
berjalan sukses sehingga berhasil dan kini tak seorang pun penduduk Madura yang
bukan Muslim. Kalau pun ada yang
bukan Muslim, maka bisa dipastikan mereka itu pendatang baru. Namun, sejak
kapan dan bagaimana semua itu bermula, amat sukar dirajut dengan sempurna.
Ibarat benang kusut, sejarah proses Islamisasi Madura ini belum dan tidak
terdokumentasi dengan rapi. Mitos dan legenda banyak mewarnai kisah-kisah
seputar Islamisasi penduduk pulau garam ini. Beberapa kajian akademis yang
hadir belakangan terlalu banyak yang mengangkat Madura dari segi budaya an
sich, sehingga terkesan melupakan peran tokoh-tokoh ulama-ulama yang
membawanya. Tulisan ini berusaha mengungkap sejarah Islamisasi Madura pada
periode awal, yaitu masa peralihan agama primitif orang Madura kepada Islam (Damyati
dan Thabran, 2012).Tetapi
jauh sebelum itu sudah banyak pedagang-pedagang Islam (misal:dari Gujarat) yang
singgah di pelabuhan pantai Madura, terutama di pelabuhan Kalianget (Sumenep).
Karena adanya aksi dan interaksi serta komunikasi antara penduduk asli dengan
para pedagang sebagai pendatang tentu membawa pengaruh terhadap kebudayaan dan
kepercayaan mereka. Diceritakan bahwa di suatu daerah di dekat desa Parsanga di
Sumenep datang seorang penyiar agama Islam. Ia memberikan pelajar agama Islam
kepada rakyat Sumenep. Apabila seorang santri telah dianggap dapat melakukan
rukun agama Islam, maka ia dimandikan dengan air yang dicampuri bermacam-macam
bunga yang baunya harum, hal semacam ini disebut “e dudus”, tempat tersebut
diberi nama desa Padusan masuk kota Sumenep dan Guru yang mengajar tersebut
diberi nama “Sunan Padusan”. Beliau keturunan dari Arab, ayahnya bernama Usman
Haji, anak dari raja Pandita, saudara dari Sunan Ampel. Pada waktu itu rakyat
Sumenep sangat senang mempelajari agama Islam, sehingga mempengaruhi rajanya
yaitu Pangeran Joko Tole (Surodiningrat III) masuk agama Islam (Rusmaniyah,
2008).Mudahnya
Islam diterima oleh masyarakat Sumenep dikarenaka oleh :1.
Islam mengajarkan toleransi terhadap sesama manusia, saling menghormati dan
tolong menolong.2.
Islam mengajarkan bahwa dihadapan Allah, derajat semua manusia sama, kecuali
takwanya.3.
Islam mengajarkan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pengasih dan
Penyayang, dan mengharamkan manusia saling berselisih, bermusuhan, merusak, dan
saling mendengki.4.
Islam mengajarkan agar manusia menyembah hanya kepada Allah dan tidak
menyekutukannya serta senantiasa setiap saat berbuat baik terhadap sesama
manusia tanpa pilih kasih (Defli, 2009).
BAB
IIIKESIMPULAN
Sumenep
adalah bagian dari bandar di Pulau Madura yang sangat penting, Suemnep yang
berada di Madura bagian timur sangat strategis untuk persinggahan kapal yang
akan menuju Nusantara bagian timur. Tentu saja bukan hanya untuk tempat
singgah, tapi mereka juga tinggal untuk menunggu keadaan angin bersahabat untuk
berlayar sampai di Nusantara Timur.Proses
Islamisasiya di bawa oleh para pedagang langsung ataupun para Ulama yang
merupakan murid dari Wali Songo di Jawa, murid dari Wali Songo ini mengislamkan
Raja dulu, sehingga dengan mudah mengislamkan rakyat, sedangkan para pedagang
menyebarkan agama Islam melalui rakyat pesisir terlebih dahulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar