Selasa, 06 Juni 2017

KOTAKU

  ASAL USUL KOTAKU

Jalur perdagangan di Pantai Utara JawaPeranan Wali Songo penyebaran Islam di Pulau Jawa sangat besar, namun Wali Songo bukanlah orang asli Nusantara, melainkan berasal dari Negeri Cina dan keturunannya, Bong Swi Hoo atau Sunan Ampel yang sebelumnya adalah seorang yang berasal dari Campa yang didatangkan untuk menjadi Kapten Cina di Bangil di muara sungai Porong (Muljana 2009:185-186).Seperti halnya daerah-daerah lain di Nusantara, pulau Madura yang secara geografis terletak di dekat atau berhadapan dengan kota-kota pelabuhan di Jawa Timur yaitu pelabuhan Tuban, Gresik dan Surabaya tidak terlepas dari usaha penyebaran Agama Islam yang dilakukan oleh para Wali di Pulau Jawa. Sunan Giri atau Raden Paku, murid dari Sunan Ampel, telah berhasil mengislamkan Madura, Lombok, Makasar dan Ternate. Akan tetapi jauh sebelum itu sudah banyak pedagang-pedagang Islam dari Gujarat yang singgah di pelabuhan pantai Madura, terutama di pelabuhan Kalianget atau Sumenep. Dalam kaitannya dengan Madura.Dalam abad ke-16, karena munculnya agama Islam di kepulauan dan juga karena kesulitan-kesulitan intern, istana Majapahit yang pernah berkuasa itu kehilangan kekuasaan dan pengawasan  atas kerajaan di pesisir utarea Jawa. Kerajaann-kerajaan kecil itu takluk dan berkembang menjadi negara-negara pesisir yang bebas dan saling bersaing mendapatkan hegemoni di lautan. Menurut cerita tradisi, para raja tetap setia kepada Kerajaan Majapahit. Sesudah itu barulah mereka mengakui kekuasaan tertinggi yaitu kerajaan Demak yang bertumpu pada perdagangan di seberang lautan, yang mungkin menggunakan pulau Madura sebagai basisi penyerangan dalam perjuangna yang bermotif ekonomi terhadap beberapa daerah di ujung timur Jawa yang tetap beragama Hindu yag didukung oleh kerajaan Bali. Barulah sekitar abad ke 16, Islam tumbuh melalui perdagangan di pulau tersebut. Dimana-mana di sepanjang pesisir bermukimlah pedagang-pedagang Islam yang kebanyakan adalah orang Melayu.Selama dalam kejayaan kerajaan Majapahit, Madura tidak begitu penting keberadaannya bila dibandingkan dengan kerajaan dibawah Kerajaan Majapahit lainnya, Majapahit yang memiliki bandar dagang di Malaka, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan kepulauan Maluku. Sehubungan dengan pengamanan jalur perdagangan, penguasaan Pulau Madura adalah penting sekali bagi Kerajaan Majapahit. Terlebih lagi hal itu berlaku bagi negara-negara pesisir Demak dan Surabaya yang mengarahkan seluruh kegiatan mereka di bidang maritim dan komersial (De Jounge 1989:47).Islamisasi di Sumenep bermula dari interaksi yang lama antara penduduk asli dengan para pedagang sebagai pendatang tentu membawa pengaruh terhadap kebudayaan dan kepercayaan mereka, diceritakan disuatu daerah didekat desa Persanga di Sumenep datang seorang penyiar Agama Islam. Ia memberi pelajaran Agama Islam di Pulau Sumenep, diceritakan pula bahwa seorang santri telah dianggap dapat melakukan rukun agam Islam maka ia lalu dimandikan dengan air dengan dicampuri macam-macam bunga yang baunya sangat harum, dimandikan secara demikian disebut dengan "e dusdus", karena itu tempat dimana dilakukan upacara dinamakan desa "Padusan". Kampung Padusan ini termasuk desa Pamolokan kota Sumenep, guru yang memberi pelajaran agama itu disebut "Sunan Padusan" menurut riwayat hidupnya ia keturunan dari Arab ayahnya bernama Usman Hadji, anak dari Raja Pandita saudara dari Sunan Ampel. Pada waktu itu rakyat sangat suka mempelajari Agama Islam sehingga mempengaruhi kepada Rajanya ialah pangeran jokotole yang lalu masuk Islam (Karnain 2009). 

Bandar perdagangan di SumenepSeperti halnya daerah-daerah lain di Nusantara, pulau Madura yang secara geografis terletak di dekat atau berhadapan dengan kota-kota pelabuhan di Jawa Timur yaitu pelabuhan Tuban, Gresik dan Surabaya tidak terlepas dari usaha penyebaran Agama Islam yang dilakukan oleh para Wali di Pulau Jawa. Sunan Giri atau Raden Paku, murid dari Sunan Ampel, telah berhasil mengislamkan Madura, Lombok, Makasar dan Ternate. Akan tetapi jauh sebelum itu sudah banyak pedagang-pedagang Islam dari Gujarat yang singgah di pelabuhan pantai Madura, terutama di pelabuhan Kalianget atau Sumenep.Sebagaimana dikatakan di atas bahwa salah satu penghambat pelaksanaan hubungan perdagangan adalah tidak adanya tempat transaksi yang tetap. Oleh karena itu, salah satu usaha yang dilakukan oleh para pedagang adalah membangun kota pelabuhan. Biasanya, kota pelabuhan yang terletak pada jalur perdagangan yang strategis dapat berkembang dengan pesat dan cepat. Dengan demikian, pembangunan kota pelabuhan merupakan salah satu persyaratan yang penting bagi perkembangan perdagangan di kepulauan Indonesia. Dalam perkembangannya, kota pelabuhan memegang peranan penting penyebaran Islam di kepulauan Indonesia (Rusdiantoro 2011).Berdasarkan kenyataan di atas, maka tidak berlebihan apabila kota pelabuhan sebagai kota dagang dan jalur pelayaran memiliki peranan yang strategis dan penting bagi proses masuknya Islam ke Indonesia. Beberapa fungsi kota pelabuhan adalah sebagai berikut:1. Sebagai tempat berlabuh kapal-kapal dagang, baik untuk memuat dan/atau membongkar barang-barang dagangannya.2. Sebagai tempat traksaksi perdagangan (jual beli barang-barang).3. Sebagai tempat persinggahan dan/atau istirahat para pedagang.4. Sebagai tempat tinggal para pengusaha kapal dan para pedagang.Dikatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara dibawa oleh pedagang asal Gujarat, ada dua pendapat yang mengatakan kapan waktu datangnya Islam ke Nusantara, yang pertama adalah pada abad VII M dan pada abad ke XII M. Islam mulai masuk ke Nusantara, karena pada abad ini kerajaan Sriwijaya berusaha mengembangkan kekuasaannya, Selat Malaka sudah mulai dilalui oleh pedagang-pedagang muslim dalam pelayarannya ke negeri-negeri di Asia Tenggara dan Asia Timur. Teori ini berdasarkan pada berita Cina dari zaman T’-ang, pada abad tersebut diduga masyarakat muslim sudah ada di daerah Sumatera (Poesponegoro dan Notosusantanto 1992: 180-181).Selain dari Bangsa Persia ataupun Bangsa Gujarat, perdagangan di Sumenep juga dibawa oleh orang Cina, ini dibuktikan dengan adanya Klenteng Tri Dharma yang berada di dekat Pelabuha Kalianget. Klenteng ini satu-satunya klenteng yang berada di Kota Sumenep bahkan satu-satunya klenteng beraliran tridharma di Pulau Madura. Klenteng Pao Xian Lian Kong Sumenep dibangun kira-kira 190 tahun lalu, menurut pengurus Klenteng, Klenteng ini dibangun oleh para perantau asal Fujian di Tiongkok Selatan dan ditemukan bukti tentang adanya tulisan di Kimsin atau rupang Makco Thian Siang Sing Bo dalam kompleks tersebut. Kimsin dewi pelindung para pelaut itu dibawa langsung oleh para perantau asal Fujian di Tiongkok Selatan ke Sumenep (Naidra, 2012). 

Proses Islamisasi di SumenepBukan suatu hal yang berlebihan apabila seseorang mengatakan bahwa Islamisasi Madura berjalan sukses sehingga berhasil dan kini tak seorang pun penduduk Madura yang bukan Muslim. Kalau pun ada yang bukan Muslim, maka bisa dipastikan mereka itu pendatang baru. Namun, sejak kapan dan bagaimana semua itu bermula, amat sukar dirajut dengan sempurna. Ibarat benang kusut, sejarah proses Islamisasi Madura ini belum dan tidak terdokumentasi dengan rapi. Mitos dan legenda banyak mewarnai kisah-kisah seputar Islamisasi penduduk pulau garam ini. Beberapa kajian akademis yang hadir belakangan terlalu banyak yang mengangkat Madura dari segi budaya an sich, sehingga terkesan melupakan peran tokoh-tokoh ulama-ulama yang membawanya. Tulisan ini berusaha mengungkap sejarah Islamisasi Madura pada periode awal, yaitu masa peralihan agama primitif orang Madura kepada Islam (Damyati dan Thabran, 2012).Tetapi jauh sebelum itu sudah banyak pedagang-pedagang Islam (misal:dari Gujarat) yang singgah di pelabuhan pantai Madura, terutama di pelabuhan Kalianget (Sumenep). Karena adanya aksi dan interaksi serta komunikasi antara penduduk asli dengan para pedagang sebagai pendatang tentu membawa pengaruh terhadap kebudayaan dan kepercayaan mereka. Diceritakan bahwa di suatu daerah di dekat desa Parsanga di Sumenep datang seorang penyiar agama Islam. Ia memberikan pelajar agama Islam kepada rakyat Sumenep. Apabila seorang santri telah dianggap dapat melakukan rukun agama Islam, maka ia dimandikan dengan air yang dicampuri bermacam-macam bunga yang baunya harum, hal semacam ini disebut “e dudus”, tempat tersebut diberi nama desa Padusan masuk kota Sumenep dan Guru yang mengajar tersebut diberi nama “Sunan Padusan”. Beliau keturunan dari Arab, ayahnya bernama Usman Haji, anak dari raja Pandita, saudara dari Sunan Ampel. Pada waktu itu rakyat Sumenep sangat senang mempelajari agama Islam, sehingga mempengaruhi rajanya yaitu Pangeran Joko Tole (Surodiningrat III) masuk agama Islam (Rusmaniyah, 2008).Mudahnya Islam diterima oleh masyarakat Sumenep dikarenaka oleh :1. Islam mengajarkan toleransi terhadap sesama manusia, saling menghormati dan tolong menolong.2. Islam mengajarkan bahwa dihadapan Allah, derajat semua manusia sama, kecuali takwanya.3. Islam mengajarkan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pengasih dan Penyayang, dan mengharamkan manusia saling berselisih, bermusuhan, merusak, dan saling mendengki.4. Islam mengajarkan agar manusia menyembah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukannya serta senantiasa setiap saat berbuat baik terhadap sesama manusia tanpa pilih kasih (Defli, 2009).


BAB IIIKESIMPULAN
Sumenep adalah bagian dari bandar di Pulau Madura yang sangat penting, Suemnep yang berada di Madura bagian timur sangat strategis untuk persinggahan kapal yang akan menuju Nusantara bagian timur. Tentu saja bukan hanya untuk tempat singgah, tapi mereka juga tinggal untuk menunggu keadaan angin bersahabat untuk berlayar sampai di Nusantara Timur.Proses Islamisasiya di bawa oleh para pedagang langsung ataupun para Ulama yang merupakan murid dari Wali Songo di Jawa, murid dari Wali Songo ini mengislamkan Raja dulu, sehingga dengan mudah mengislamkan rakyat, sedangkan para pedagang menyebarkan agama Islam melalui rakyat pesisir terlebih dahulu.